“PAJJAR LAGGU” LAGU DAERAH DARI SUMENEP


PAJJAR LAGGU
Pjjar laggu arena pon nyonara
Bapa’ tani se tedung pon jaga’a
Ngala’ are’ so landu’ tor capella
Ajalana gi’ sarat kawajibhan
Atatamen mabennyak hasel bumina
Mama’mor nagarana tor bangsana

(diterjemahkan dalam bahasa Indonesia )
Fajar pagi mataharinya mulai bersinar
Petani yang tidur mulai bangun
Mengambil celurit, cangkul dan topinya
Berjalan atas dasar kewajibannya
Bercocok tanam guna memperbanyak hasil buminya
Memakmurkan Negara dan bangsanya.

Lagu daerah berjudul “ pajjar laggu “ di atas merupakan lagu asli dari Sumenep. Lagu di atas mengisahkan kehidupan petani Madura. Dimana setiap pagi ketika fajar mulai merekah kemerahan di timur sana, petani itu akan memulai kembali kisah hidupnya dengan lahan-lahan sawah yang permai hari ini.

Celurit, cangkul, dan topi yang selalu ia bawa. Dia menyadari, apa yang dia lakukan merupakan kewajibannya. Dengan bercocok tanam yang hanya berbekal pengalaman dari moyangnya, dia berharap dapat menjadi manusia yang berguna bagi negara dan bangsanya.

Benar pendapat banyak orang, bahwa orang Madura adalah orang yang tangguh. Tangguh dalam agama, tugas dan kewajibannya. Dan juga tangguh terhadap masalah, baik yang dihadapi atau yang masih akan dihadapi. Dengan kebesaran hati seorang petani, urat-uratnya yang kuat, tulang yang kokoh, tubuh yang kekar, suara yang tak pernah mengumandangkan penyesalan, mereka mampu memakmurkan Indonesia. Karena tanpa jasa-jasa mereka masyarakat Madura belum tentu mengenal jagung dan beras sebagai makanan pokok mereka sehari-hari. 10NOV13

Upacara Nyadar

Upacara nyadar merupakan upacara tradisional yang bersifat ritual yang dilaksanakan setiap tahun secara bersama-sama oleh masyarakat Pinggir Papas (kecamatan Kalianget ) dan desa Kebun Dadap ( kecamatan Saronggi, kabupaten Sumenep ). Upacara nyadar ini pada dasarnya adalah “nyekar” yang artinya mengunjungi makam-makam leluhur yang letaknya di desa Kebun Dadap. Upacara nyadar ini bertujuan untuk memohon kemurahan dan kesejahteraan kepada Sang Pencipta. Selain itu untuk mengenang kembali jasa-jasa Ki Anggosito. Karena berkat beliaulah masyarakat Pinggir Papas dan Kebun Dadap dapat mempelajari tata cara membuat garam, yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian mereka.

Dari dulu hingga sekarang pelaksanaan upacara nyadar selalu dilaksanakan pada hari jumat, dikarenakan masyarakat Pinggir Papas dan Kebun Dadap memercayai bahwa hari jumat adalah hari yanh paling baik.

Upacara nyadar dilaksanakan dalam tiga periode. Pelaksanaan nyadar periode pertama yaitu saat para petani garam mulai menggarap lahan garam hingga menjadi garam. Perode kedua yaitu saat dimulainya para petani garam memanen garamnya, dan pelaksanaan nyadar yang ketiga adalah saat garam yang dibuat sudah sampai di masing-masing rumah para petani garam. Oleh karena itulah upacara nyadar yang ketiga ini diberi nama ”nyadar bengkoan” (dalam bahasa Madura) yang artinya upacara nyadar yang dilakukan di rumah saja. Keesokan harinya,yaitu pada hari sabtu dilaksanakanlah ”kaom” yang dipimpin oleh sesepuh Pinggir Papas yang memakai baju berciri khas yaitu baju tambal seribu. Pada malam sebelum pelaksanaan kaom diadakan upacara permohonan kesejahteraan kepada Yang Maha Kuasa yang juga dipimpin oleh sesepuh di atas mulai dari tengah malam sampai fajar menjelang pagi di kuburan yang dianggap keramat di desa Kebun Dadap.

Setelah selesai upacara, secara bersama-sama menuju sungai Saroka dan menuju sungai Pinggir Papas dengan membawa semua sesaji untuk dibagikan. Disana mereka menikmati lomba dayung sampan. Lomba dayung sampan ini sebenarnya dilakukan beberapa tahun lalu. Sekarang ditiadakan, hanya pihak-pihak tertentu yang menyewakan sampannya unrtuk lomba dan kebanyakan sampan-sampan mereka digunakan untuk transportasi (trasportasi penyabrangan).

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme